Pengunjung

Senin, 02 Maret 2015

Uji Nikotin Buktikan Bahaya Rokok


Uji Nikotin Buktikan Bahaya Rokok
Para siswi MTsN Teunom sedang membakar rokok, sambil memompa selang minyak, melakukan praktik uji nikotin menggunakan bahan yang sederhana.
Ternyata kampanye anti rokok dengan sangat mudah dilakukan sejak dini, tentu saja dengan cara membuktikan kepada pelajar tentang efek atau bahaya yang akan diterima dari kandungan sebatang rokok. Inovasi yang sederhana tersebut dilakukan oleh sebuah madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Aceh Jaya yaitu  MTsN Teunom yang terletak di Desa Panton Kecamatan Teunom. Mengapa tidak? teknik learning by doing (belajar sambil melakukan) dan learning by experiencing (belajar sambil mencari pengalaman) yang  diusung oleh para gurunya mampu menciptakan iklim positif yang penuh semangat dan bersekolah dengan senang.

Inovasi pembelajaran diperagakan oleh Bapak Ridwan, MA dengan merakit alat uji nikotin pada rokok dari pompa minyak dan botol bekas. Tujuan pembelajarannya adalah untuk memperlihatkan besarnya pengaruh nikotin dalam sebatang rokok  “Praktik baik ini memberikan pembuktian bahaya nikotin bagi tubuh manusia yang dapat berefek bagi kesehatan. Selain itu praktik yang baik ini juga merupakan media belajar yang efektif, inovatif, kreatif dan menyenangkan dengan memanfaatkan bahan bekas di sekitar lingkungan siswa sehingga dapat membiasakan siswa kreatif menguji ilmu dengan bahan sederhana,” jelas Pak Ridwan sang innovator.
Para siswapun bersiap merakit media uji nikotin. Bahan-bahannya terdiri dari 1 buah pompa minyak, 1 buah botol bekas air mineral, selang air ukuran 6 mm dengan panjang 60 cm,  5 batang rokok, 1 buah selotip bening, 1 buah gunting, beberapa cotton bud  dan sebuah lem perekat yang kuat serta beberapa gelas penampung sampel. “Bahan-bahan ini murah dan mudah didapat di daerah kami,” jelas Riska Agustina Putri salah seorang siswi yang sedang merakit alat peraganya.
Teknik merakitnya ialah dengan mencabut kedua selang standar pada pompa minyak, tentukan lidah penghisap dan pasanglah pemompa minyak pada selang. Selanjutnya penghisap dihubungkan dengan selang air berukuran 6 mm yang telah dimasukkan ke dalam botol dengan ukuran lubang 5 cm yang telah tertutup dengan  lem. Setelah itu, masukan selang air dari arah yang berbeda sampai ke pangkal botol, lanjutkan dengan memasukkan rokok pada ujung selang yang berbeda (ujung selang lidah penghisap). Kemudian lanjutkan lagi dengan membakar rokok sambil memompa pompa minyak dan lakukan berkali-kali sehingga menghabiskan 5 batang rokok.
Setelah 5 batang rokok habis terhisap oleh pemompa minyak maka terlihatlah perubahan warna pada botol mineral. “Wah…ternyata nikotin itu sangat berbahaya bagi tubuh manusia, botol mineral ini saja bisa berubah!” takjub Raudhatul Jannah yang melakukan praktik tersebut. Pak Ridwan berharap praktik yang dilakukan oleh siswanya ini mendapatkan manfaat langsung dengan apa yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari. Terutama dalam menyadarkan orang di sekeliling mereka akan bahayanya rokok bagi tubuh manusia. “Diharapkan dari praktik yang baik ini siswa dapat memahami tar dan nikotin yang dikandungi oleh sebatang rokok. Nikotin pula yang merubah air mineral serta menimbulkan bau yang tidak sedap melekat di seluruh bagian bahan uji. Praktik ini menjadi bukti nyata bagi mereka tentang bahaya rokok. Tar yang merekat pada dinding botol dan air mineral yang menimbulkan bau dan berubah warna dengan mengibaratkannya sebagai tubuh manusia yang mengkonsumsi ratusan batang rokok dalam sebulan, ” jelas Pak Ridwan. Harapan Pak Ridwan tidak hanya sampai disitu, kampanye anti narkobapun dapat didengungkan dengan praktik baik ini. “Siswa sudah jelas melihat bahaya yang timbulkan oleh rokok. Apalagi jika yang masuk ke dalam tubuh manusia sejenis narkoba yang digunakan dengan menghisap narkoba tersebut, bukan saja bagi sirkulasi pernafasan, tetapi juga merusak syaraf pada otak,” tegas Pak Ridwan.
Terobosan inovasi pembelajaran yang unik dan menarik, bukan hanya merangsang siswa kreatif tetapi juga menantang mereka berkompetisi memamfaatkan bahan bekas menjadi media belajar yang relevan, menyenangkan dan mudah dijangkau oleh semua. “Semoga dengan praktik yang baik ini dapat merangsang eksperimen lainnya dalam tim cooperative learning di madrasah kami,” harap Pak Ridwan.

Siaga Bencana dengan Simulasi Gunung Api


Siaga Bencana dengan Simulasi Gunung Api
Siswi MTsN Teunom Aceh Jaya memperagakan simulasi letusan gunung berapi dengan media pembelajaran yang dibuatnya.
Aceh Jaya, Aceh. Cut Rika Ramadhani menuangkan asam cuka dalam sebuah selang yang terhubung dengan pompa dan sebuah alat peraga di hadapannya. Teman-teman kelompoknya ikut membantu menuangkan soda dan pewarna dalam sebuah lubang pada alat peraga yang berbentuk puncak gunung. Selanjutnya asam cuka dipompa sehingga mengeluarkan cairan merah.
Alat peraga yang mereka rancang bersama tersebut bernama “Simulasi Gunung Berapi” yang menghasilkan magma (lahar merah) pada lereng pegunungan. Ridwan, MA  yang membimbing siswa MTsN Teunom Aceh Jaya tersebut berharap dengan menggunakan alat peraga ini siswa dapat memahami proses letusan gunung berapi.
“Dengan simulasi ini siswa lebih paham proses gunung berapi karena kita tidak mungkin membawa siswa pada situasi nyata apalagi saat terjadinya ledakan gunung berapi,” jelas Ridwan.
Selain memahami letusan sebuah gunung, siswa juga diajak memahami jalur evakuasi, cara pengungsian yang benar dan tempat pertemuan (berkumpul) jika terjadi bencana, oleh karena itu alat peraga yang mereka buat bersama dari kartun dan busa bekas tersebut juga memperlihatkan hamparan jalan, sekolah, rumah penduduk, pepohonan dan persawahan.  “Dengan memperhatikan arah angin dan magma soda yang keluar dari alat peraga gunung berapi, kami juga dapat mempelajari jalur evakuasi dan tempat berkumpul yang benar saat terjadinya bencana. Selain itu, kami juga mengetahui radius yang aman untuk mengungsi dan bersiaga saat terjadinya bencana gunung berapi,” jelas Rika.

Tumbuhkan Minat Baca dengan Buku Kecil


Ridwan, MA., Guru MTsN Teunom, Kabupaten Aceh Jaya

Tumbuhkan Minat Baca dengan Buku Kecil
Siswa saling berbagi informasi dari buku kecil hasil karyanya. Foto lainnya dapat dilihat pada kolom "Galeri Foto" (MTsN Teunom Aceh Jaya I, 1 Juli 2014, Sri Wahyuni)
Para siswa saya di MTsN Teunom Aceh Jaya tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya dengan hasil karya yang telah mereka hasilkan. Buku kecil yang berbentuk buku saku unik tersebut didisain secara sederhana dan  kreatif. Buku kecil itu berisikan tulisan hasil eksplorasi mereka memanfaatkan sumber-sumber informasi. Banyak yang beranggapan bahwa untuk menumbuhkan minat baca/budaya baca dan keingintahuan siswa harus dilakukan di suatu ruangan besar dimana tersusun rapi buku-buku dengan judul yang banyak (baca: perpustakaan) tetapi saya mencoba menumbuhkan minat baca sambil bereksplorasi menciptakan sebuah buku kecil. Hasilnya, siswa dapat menunjukkan pembelajaran yang aktif dengan menggali, mengorganisasi dan mengkomunikasikan informasi kepada pembaca lain melalui buku kecil yang dibuatnya.
Ide ini saya peroleh sekembali dari Pelatihan untuk Pelatih Modul 2 Tingkat Nasional yang berkaitan dengan budaya baca dan literasi. Dengan ide ini saya mengajak siswa untuk berpikir lepas dan menantang mereka untuk menulis. Tujuannya, memanfaatkan sumber informasi yang ada (surat kabar, majalah, internet, buku bahkan hasil wawancara) menjadi sesuatu sumber yang menarik dan menantang sehingga dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif dan berinovasi dalam menulis dengan menggunakan gaya bahasa dan bahan yang sederhana. Ide ini juga dapat memecahkan masalah kekurangan buku bacaan di dalam kelas.
Bahan yang digunakan antara lain; kertas buku atau kertas kwarto yang dipotong2 sesuai dengan kebutuhan (ukuran buku), gunting dan kulit buku, karton atau platik bekas yang akan dijadikan sebagai cover buku.
Langkah kegiatannya: 1) Guru memberikan informasi kepada siswa untuk membaca dan mencari literasi buku dengan tema apa saja, 2) Memudahkan siswa untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber, 3) Siswa menyiapkan buku kecil/saku mereka dengan bentuk dan warna yang mereka sukai, 4) Dalam sesi pembelajaran, siswa menuliskan informasi penting yang berkaitan dengan tema yang mereka senangi dan disampaikan kepada teman-temannya melalui tulisan yang telah mereka buat, 5) Cover buku bertuliskan judul yang dapat menimbulkan keinginan orang untuk membacanya (misalnya:  22 Satwa Air Tawar dan Catatan Angka Rahasia Dalam Matematika), 6) Halaman belakang dicantumkan nama penulis dan komentar pembaca, 7) Saling menukarkan buku untuk dibaca oleh siswa lainnya sehingga informasi tersebarkan kepada teman lainnya dan akan menjadi milik pustaka kelas.
Hasilnya memang luar biasa. Para siswa merespon dengan sangat antusias. Selain mudah dibawa dan dibaca, praktik yang baik ini juga dapat menumbuhkan budaya baca/minat baca bagi siswa dan melatih kecakapan menulis serta menggali informasi yang dianggap penting dalam suatu  permasalahan yang diungkapkan dalam bentuk /gaya tulisan yang unik. Selain itu kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan informasi kepada siswa lain melalui tulisan yang unik dan menarik. Salah seorang siswa saya merasa lebih tertantang untuk mengali informasi dan keingginanya untuk membaca (mengali informasi melalui sumber bacaan) menjadi meningkat, “Saya sangat senang bisa membuat buku saku ini, sehinga bisa dibaca dan memberikan informasi kepada teman-teman berdasarkan pemahaman dan tulisan saya sendiri. Pembelajaran ini juga membuat saya lebih tertantang lagi untuk mencari dan menggali informasi yang lebih banyak sehingga dapat saya jadikan refensi bahan tulisan berikutnya,” kata Putri linda siswi kelas VIII MTsN Teunom Kabupaten Aceh Jaya.